Sering Dengar Istilah Makanan Jatuh Belum 5 Menit ?? Sebaiknya Boleh Dimakan Atau Dibuang Ini Jawaban Ahli Kesehatan…

Posted on

Apa yang kamu lakukan bila makanan yang sedang nikmati tiba-tiba jatuh ke lantai?
Apakah kamu mengambilnya kembali secepat mungkin sambil mengatakan ‘belum lima menit’?
Hal ini seolah-oleh menandakan, makanan jatuh dan durasi jatuhnya belum sampai lima menit maka masih bersih dan bebas dari kuman dan bakteri.

Sehingga sehat dan bisa dikonsumsi.Kalau itu masih sering kamu lakukan, simak deh fakta-fakta berikut ini.

1. Asal- usul istilah itu hingga berubah jadi ‘belum lima detik’
Sejatinya asal mula istilah ini digunakan di Indonesia bahkan negara-negara lain masih diperdebatkan.

Melansir halaman Facebook Sejarah Dunia, istilah itu sempat diperdebatkan Jenghis Khan (pendiri kerajaan Mongol) yang mengimplementasikan aturan 12 sampai 20 jam memakan makanan yang sudah jatuh di lantai.

Lalu pada zaman modern, hal ini diubah menjadi aturan 5 detik.Ada juga pendapat lain soal asal-muasal istilah ini

Ada yang mengatakan perkataan ini muncul akibat sebuah iklan pembersih lantai.
Hal ini untuk menunjukkan kualitas terbaik dari produk pembersih lantai tersebut.
Dicontohkan iklan itu menunjukkan sebuah makanan jatuh ke lantai dan kemudian dimakan kembali dalam waktu 5 detik atau kurang.

Kemudian iklan tersebut menyebutkan aturan “belum 5 detik,” dari sinilah aturan ini berasal.
Asal mula inilah yang paling banyak dipercaya walaupun tidak diketahui kepastiannya.

2. Faktanya makanan yang jatuh belum lima detik/menit masih bisa dikonsumsi itu mitos
Profesor Paul Dawson dari Clemson University mengungkapkan, makanan yang terkontaminasi bakteri bukan berdasarkan berapa lama jatuh di lantai.

Melainkan bergantung pada berapa banyak kuman di lantai, sebagaimana dilansir dari Kompas.com.
Tahun 2007 lalu, para ilmuwan dari Clemson University telah meneliti berapa lama terjadi perpindahan bakteri ke makanan yang terjatuh ke permukaan.

Pembuktiannya, peneliti meletakkan bakteri Salmonella di lantai keramik atau ubin, kayu, dan karpet.

Peneliti kemudian menjatuhkan roti ke permukaan tersebut selama 5 detik, 30 detik, dan 60 detik.
Untuk mengukur berapa banyak bakteri yang berpindah ke roti yang jatuh itu.
Saat makanan dijatuhkan di karpet, hanya kurang dari satu persen Salmonella yang berpindah ke makanan.

Namun, ketika dijatuhkan di ubin dan kayu, perpindahan bakteri ke makanan sebanyak 48-70 persen.
Berdasarkan hasil penelitian lainnya, 5 detik itu ternyata terlalu lama jika menunggu bakteri memasuki makanan.

Bakteri akan dapat menempel pada makanan seketika itu juga pada saat ia jatuh ke lantai.
Setelah 5 detik, makanan tersebut dapat menjadi rumah bagi 150-8.000 bakteri, tidak peduli permukaan apapun.

Selama 1 menit jumlahnya dapat menjadi 10 kali lipat lebih besar.Walaupun lantai terlihat bersih kamu tidak boleh merasa aman.

Karena seketika kamu menginjak lantai tersebut, baik dengan sandal, sepatu atau kaki, itu akan langsung menjadi ‘rumah terbaik’ bagi bakteri-bakteri.

Penelitian menemukan, 90 persen sepatu kita terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E Coli (Escherichia Coli).

Yaitu bakteri dalam sistem pencernaan manusia untuk mengurai makanan, yang dapat mengakibatkan demam dan diare.

Sehingga kalau ada anggapan bakteri membutuhkan waktu 6 detik untuk berpindah ke makanan, itu hanya mitos.

 Jadi, jika aturan lima detik di negara lain saja salah kaprah apalagi lima menit seperti yang dipercayai kebanyakan orang Indonesia.